Senin, 15 Februari 2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Menurut Desi Reminsa (2008) dalam manajemen sumber daya manusia, menjadi baik profesional adalah tuntutan pekerjaan, profesi, ataupun jabatan. Ada satu hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yakni sikap “baik” baik dalam segi profesionalitas, kualitas,  serta manfaat dari diri kita dalam profesi kita.
Kata “baik” adalah kata yang menggambarkan kualitas ideal yang di harapkan pada suatu profesi yang meliputi berbagai aspek mendasar dalam suatu profesi termasuk profesionalisme.
Profesional (dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti.
Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya (Isnawati, 2010 : 118).

Menjadi profesional adalah tuntutan setiap profesi, seperti dokter, insinyur, pilot, ataupun profesi yang telah familiar ditengah masyarakat. Akan tetapi guru…? Sudahkan menjadi profesi dengan kriteria diatas. Guru jelas sebuah profesi. Akan tetapi sudahkah ada sebuah profesi yang baik dan profesional…? Minimal menjadi guru harus memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Apabila keahlian tersebut tidak dimiliki, maka tidak dapat disebut guru. Artinya tidak sembarangan orang bisa menjadi guru.
Namun pada kenyataanya, banyak ditemui menjadi guru seperti pilihan profesi terakhir. Kurang bonafide, kalau sudah mentok tidak ada pekerjaan lain atau sebuah status sosial yang lekat dengan kemarginalan, gaji kecil, tidak sejahtera malah dibawah garis kemisikinan. Bahkan guru ada yang dipilih asal comot yang penting ada yang mengajar. Padahal guru adalah operator sebuah kurikulum pendidikan.Ujung tombak pejuang pengentas kebodohan. Bahkan guru adalah mata rantai dan pilar peradaban dan benang merah bagi proses perubahan dan kemajuan suatu masyarakat atau bangsa.
Mengingat guru adalah profesi yang sangat idealis, pertanyaannya adakah guru yang baik itu. Dan bagaimana melahirkan sosok guru yang baik serta profesional tersebut.

1.2  Rumusan Masalah
Ø  Bagaimana guru yang baik dan profesional itu?
Ø  Bagaimana menjadi guru yang baik ?
Ø  Bagaimana guru yang baik dewasa ini?

1.3  Tujuan
Ø Untuk mengetahui guru yang baik.
Ø Untuk mengetahui cara menjadi guru yang baik.
Ø Untuk mengetahui guru yang baik dewasa ini.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Guru yang profesional
            Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan, melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran.
Menjadi profesional adalah mampu meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian, profesi guru juga sangat lekat dengan peran yang psikologis, humannis bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa. Berikut beberapa kriteria untuk menjadi guru profesional.

A.    Memiliki skill/keahlian dalam mendidik atau mengajar
Setiap orangbisa saja bekerja sebagai seorang guru, tetapi tidak semuanya bisa menjadi guru yang benar-benar memiliki skill dan keahlian dalam mendidik. Diperlukan upaya maksimal dan tak kenal lelah untuk bisa mencapai tingkatan seorang guru yang profesional, positif dan penuh motivasi.
Dalam kontek diatas, untuk menjadi guru seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki adalah:
Ø  Memiliki kemampuan intelektual yang memadai, terutama yang berkaitan dengan materi pelajaran yang anda ampu.
Ø  Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan, sehingga dengannya anda dapat membuat skala prioritas dan dapat bekerja secara lebih terarah.
Ø  Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau  metodelogi pembelajaran dengan baik. Hal ini penting dimiliki oleh masing-masing guru agar apa-apa yang mereka ajarkan tepat sasaran dan efektif.
Ø  Memahami konsep perkembangan anak/psikologi. Hal ini juga penting agar dalam mengajar guru dapat menilai sampai sejauh mana keberhasilan mereka, apa saja kendala-kendala dihadapi, dan bagaimana menemukan solusi-solusi yang tepat
Ø  Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik sehingga kegiatan belajar dapat diikuti siswa dengan menyenangkan (Isnawati, 2010 : 121).
B.     Personaliti Guru
Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru)  otomatis menjadi teladan. Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge)  tetapi juga menanamkan nilai – nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.
C.    Memposisikan profesi guru sebagai  The High Class Profesi
Di negeri ini sudah menjadi realitas umum  guru bukan menjadi profesi yang berkelas baik secara sosial maupun ekonomi. Hal yang biasa, apabila menjadi Teller di sebuah Bank, lebih terlihat high class dibandingkan guru. jika ingin memposisikan profesi guru setara dengan profesi lainnya,  mulai di blow up bahwa profesi guru strata atau derajat yang tinggi dan dihormati dalam masyarakat. Karena mengingat begitu fundamental peran guru bagi proses perubahan dan perbaikan di masyarakat.



2.2  Membuat Belajar Menjadi Menyenangkan
Salah satu indikator guru yang baik adalah guru yang mampu menjadikan suasana belajar menjadi menyenangkan bukan menegangkan. Manfaat guru yang menyenangkan adalah menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan, karena guru yang menyenangkan mampu membangkitkan semangat belajar siswa melalui penyampaian materi pelajaran dengan cara yang menarik dan mengesankan, sehingga peserta didik merasa senang dan tidak terpakssa dalam menerima pelajaran. Meskipu demikian untuk menjadikan belajar sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan, tidak hanya dibutuhkan guru yang menyenangkan saja, tetapi ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Yaitu sebagai berikut:
Ø  Tempat belajar yang nyaman
Ø  Media pembelajaran yang menarik
Ø  Cara penyampaian materi yang mengesankan dan tidak monoton
Ø  Kesiapan peserta didik dalam menerima pelajaran

Apabila beberapa hal diatas sudah terpenuhi maka tidak sulit untuk mewujudkan belajar yang menyenangkan. Dan dengan belajar yang menyenangkan maka tujuan dari suatu pembelajaran akan mudah tercapai.
Guru ideal, seperti apakah guru ideal itu? Setiap orang bisa menyodorkan daftar panjang berisi kriteria-kriteria untuk menjawab pertanyaan ini. pada dasarnya tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar ia merupakan medium aktif antara siswa dan haluan/filsafat negara dan kehidupan masyarakat dengan segala segi-seeginya dan dalam mengembangkan pribadi siswa serta mendekatkan mereka dengan pengaruh-pengaruh dari luar yang baik dan menjauhkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang buruk. Dengan demikian seorang guru wajib memiliki segala sesuatu yang erat hubungannya dengan bidang tugasnya, yaitu pengetahuan, sifat-sifat kepribadian, serta kesehatan jasmani dan rohani.
Pembelajaran yang menarik bukanlah sekedar menyenangkan tanpa target. Ada sesuatu yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran, yaitu pengetahuan atau keterampilan baru. Jadi pembelajaran yang menarik haruslah memfasilitasi siswa untuk berhasil mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, dengan cara yang mudah, cepat, dan menyenangkan. Adapun manfaat dari pembelajaran yang menarik tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan beban psikologis siswa, tentunya akan mengefektifkan sekaligus mengefisienkan aktivitas belajar-mengajar dikelas (Maksum, 2014 : 68).

2.3  Mengajar Dengan Hati
Guru adalah sebuah profesi yang sangat istimewa, karena ucapan dan tindakannya akan sangat menentukan kepribadian murid. Wawasan dan keahliannya akan membentuk pandangan dan sikap muridnya akan kehidupan. Karena keistimewaannya inilah Pak Munif Chatib menyebut profesi guru adalah profesi seniman sejati. Namun, tak banyak guru yang menyedari keistimewaan profesi yang digelutinya, mereka masih berpikir guru adalah profesi yang kalah hebat dari profesi dokter, arsitek dan lain-lainya sehingga rasa minder, rasa tak percaya diri selalu ada dalam benaknya. Jika rasa bangga tidak ada dalam benak setiap guru, maka akan bedampak kepada kinerja dan profesionalitasnya. Mereka akan cenderung asal bekerja dan apa bedanya tanpa kreativitas, kurang bertanggung jawab dan selalu mengeluh dan menyalahkan siswa. Karena rasa bangga sebenarnya akan melahirkan rasa kecintaan terhadap profesi, tanpa rasa cinta terhadap profesi ini maka guru tidak akan bisa bekerja dengan hati. Guru adalah profesi yang banyak berkomunikasi dan kita sama-sama mengetahui bahwa komunikasi akan efektif kalau dilakukan dengan sepenuh hati. Berbeda dengan seorang  guru yang memiliki rasa kebanggaan akan profesi yang digelutinya, hatinya akan penuh dengan ketulusan dan kesungguhan. Karena, pekerjaan apapun yang tidak menyertakan hati akan tersa hambar. Hati disini memiliki konotasi positif, hati yang bening sesuai dengan kodratnya. Hati mereka penuh rasa cinta kepada semua muridnya, kreativitas akan mereka terus gali, mereka akan terus belajar tanpa henti, dan menciptakan inovasi-inovasi dan media-media belajar yang dapat memudahkan peserta didiknya dalam belajar.
Guru adalah seniman sejati, seniman yang mengapresiasikan karyanya bukan hanya untuk kepuasan pribadinya namun juga untuk kepuasan dan keberhasilan anak didiknya.seniman sejati adalah yang hasil kerjanya terukur kualitasnya. Seniman sejati adalah yang melakukan tugasnya dengan hati, adapun maksud-maksud lain harus dipandang sebagai akibat.

Setiap guru untuk tidak hanya memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga mampu untuk belajar. Jika seorang guru sudah mampu untuk belajar bagaimana mendengarkan siswa, berkomunikasi personal, mengendalikan emosi serta berusaha mengerti apa yang dimau siswa, hasilnya adalah tidak hanya siswa yang mau mendengar gurunya, melainkan siswa menjadi lebih besemangat dalam belajar dengan si guru. Itulah yang dinamakan dengan metode mengajar dengan hati (Maksum, 2014 : 45).

Guru yang baik adalah guru yang mengajar muridnya dengan hati.
Seorang guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid muridnya, tetapi juga mendidik mereka. Untuk mendidik ,tidak harus mengajar di bidang etika atau menjadi guru agama mengajar di bidang apapun, sesungguhnya setiap guru , dapat menerapkan pendidikan bagi para muridnya, yakni mengajar dengan hati
Menjadi guru jangan hanya ingin menjadi orang yang didengarkan kata katanya, tetapi juga harus bersedia mendengarkan kesulitan yang dihadapi oleh muridnya. Prinsip dasar inilah yang sering dilupakan ,sehingga kalau kita mau bicara dengan jujur, pada masa ini, yang berdiri di depan kelas, kebanyakan adalah tenaga-tenaga pengajar. Bukan seorang guru. Bagaimana mungkin menjadi guru, setelah satu tahun mengajar, masih tidak dapat menghafal nama murid muridnya (http://www.kompasiana.com/).
2.4  Membimbing Keberhasilan Peserta Didik
Keberhasilan pembelajaran adalah keberhasilan peserta didik dalam membentuk kompetensi dan mencapai tujuan, serta keberhasilan guru dalam membimbing peserta didik dalam pembelajaran. Oleh karena itu pada pembahasan ini akan dibahas secara khusus mengenai teknik membimbing keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Hal ini penting dalam rangka keberhasilan pembelajaran.
A. Mampu  Membimbing Peserta Didik yang Lamban
Slow learning atau lamban belajar merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar. Peserta didik yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran, menganalisa apa yang dipelajari, dan mengalami kesulitan dalam memahami isi pembelajaran, serta sulit membentuk kompetensi, dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Slow learning menunjuk pada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akibat kelambanan dalam perkembangan terutama perkembangan mental. Kemampuan peserta didik yang lamban belajar lebih rendah dibanding perkembangan rata-rata teman sebayanya. Kelambanan perkembangan ini disebabkan oleh tingkat kecerdasan atau IQ dibawah rata-rata umum atau dibawah nornal. Peserta didik slow leaner juga sering mengalami kelambanan dalam pertumbuhan jasmaninya (Mulyasa, 2009 : 122)
Anak-anak yang digolongkan lambat belajar adalah mereka yang memiliki IQ antara 70 sampai dengan 90, yakni yang termasuk klasifikasi kurang pandai.
Oleh karena itu guru yang baik adalah guru yang mau dan mampu serta bersabar untuk menemukan metode atau gaya belajar yang efektif bagi peserta didik yang mengalami slow learning ini.
B. Mampu Membimbing Peserta Didik yang Cerdas diatas Normal
Peserta didik yang tergolong cerdas adalah mereka yang memiliki IQ diatas normal. Pendidikan untuk anak-anak yang tergolong luar biasa diatas normal masih sangat terbatas dengan daya tampung yang masih kurang. Kondisi tersebut mengakibatkan peserta didik yang cerdas terpaksa mengikuti sekolah-sekolah biasa, tentu saja akan banyak membawa dampak negatif bagi perkembangan kemampuan peserta didik itu sendiri, bila kepadanya kurang perhatian serta perlakuan kurang wajar, dan kurang adanya penyuluhan yang tepat. Untuk menghindari hal tersebut, guru dan tenaga kependidikan lain di sekolah perlu dibekali pula dengan teknik bimbingan atau teknik membimbing peserta didik secara tepat waktu dan tepat sasaran. Dikatakan demikian, karena seringkali tindakan-tindakan guru bukan memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik, tetapi menghambat bahkan mematahkan perkembangan peserta didik. Misalnya memberikan jawaban yang tidak memuaskan bagi peserta didik yang bertanya (Mulyasa, 2009 : 127)
2.5  Penggunaan Metode dalam Belajar
Para ahli menganggap metodologi pengajaran sebagai ilmu bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu bidang-bidang lain dalam proses pembelajaran. Ia memang bersifat netral dan umum, tidak diwarnai oleh sesuatu bidang pun. Akan tetapi mengandung unsur-unsur inovatif, karena memberi alternatif lain yang dapat dipergunakan dikelas. Karena itu ilmu bantu ini bersifat luwes. Penggunaannya  didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1.  Selalu berorientasi pada tujuan.
2.  Tidak hanya terikat pada suatu alternatif saja.
3. Kerap dipergunakan sebagai suatu kombinasi dari berbagai metode.
4. Kerap dipergunakan berganti-ganti dari satu metode ke metode lain.
Untuk memilih metode mengajar tidak biasa sembarangan, banyak faktor yang mempengaruhi dan patut dipertimbangkan. Misalnya seperti yang dikemukakan oleh Winarno Surakhmad (1970) sebagai berikut:
a. Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya
b. Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya
c. Situasi dengan berbagai keadaanya
d. Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya
e. Pribadi guru serta kemampuan profesinya yang berbeda-beda.

Karenanya banyak mata pelajaran, maka tujuan  untuk setiap mata pelajaran pun berbeda-beda pula. Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode untuk mencapai tujuan tersebut. Pemilihan metode yang salah akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Guru yang baik akan memilih metode tidak dengan sesuka hatinya dan harus berpedoman pada tujuan pembelajaran (Djamarah, 2005 : 223)
2.6  Karakteristik Guru Abad 21

Banyak kriteria untuk menjadi guru yang difavoritkan oleh anak didiknya. Bagaimana sih sebenarnya kriteria seorang guru yang dicari dan diinginkan oleh anak didik?

1. adaptor
Salah satu kriteria guru yang baik adalah dia mampu beradaptasi dengan keadaan dan kondisi kelas dan anak didiknya dalam segala situasi dan kondisi.
2. Communicator
Komunikasi selalu menjadi hal dasar untuk semua orang di semua umur dan segala bidang. Demikian juga dengan guru. Guru diharuskan mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik.
3. Learner
Sebagai pengajar, seorang guru harus selalu meng update skill, pengetahuan, teknologi dan perkembangan yang ada, sehingga dia bisa mengimbangi anak didiknya yang selalu up to date dan cepat menyerap pengetahuan dan informasi yang terjadi di sekelilingnya, secara lokal maupun global.
4. Leader
Seorang guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mendidik dan memimpin anak didiknya, mengarahkan bakat dan talenta sehingga dapat diexplorasi dengan maksimal.
5. Model
Guru selalu menjadi figure atau panutan bagi anak didiknya. Oleh karena itu, dia seharusnya bersikap baik dan menjadi contoh yang baik juga (edudemic.com)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru yang baik, guru yang baik adalah gabungan dari beberapa kemampuan-kemampuan yang mendasar dan khusus yang dimiliki oleh seorang guru yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan, kemampuan yang dimiliki bisa meliputi kemampuan mengajar, mendidik, penggunaan metode-metode dalam mendidik serta mengetahui serta memahami psikologi peserta didik guna menggapai tujuan mulia dari diadakannya pendidikan tersebut. Selain itu guru yang baik tentu akan menjadi guru favorit bagi peserta didik sehingga guru yang difavoritkan tersebut dapat lebih mudah memberikan pengajaran serta pendidikan pada peserta didiknya. Guru yang baik adalah guru yang dapat membimbing serta mengarahkan anak didiknya kearah yang diinginkan oleh anak didiknya tersebut.
Selain itu guru yang baik biasanya adalah guru yang mampu menjadikan proses pembelajaran menjadi menyenangkan bukan menegangkan. Dan yang paling penting adalah guru yang baik akan mempermudah peserta didiknya dalam proses belajar bukan justru mempersulit peserta didiknya dalam proses pembelajaran tersebut. Oleh karena itu penting untuk menjadi guru yang baik.




DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta. PT Asdi Mahasatya.
Isnawati, Nurlela. 2010. Guru Positif-Motifativ. Yogyakarta. Laksana
Maksum, Muhammad. 2014. Menjadi Guru Idola. Klaten. Cable Book
Mulyasa, E. 2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset.