BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menurut Desi Reminsa (2008) dalam manajemen sumber
daya manusia, menjadi baik profesional adalah tuntutan pekerjaan, profesi,
ataupun jabatan. Ada satu hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi,
yakni sikap
“baik” baik dalam segi profesionalitas, kualitas, serta manfaat dari diri kita dalam profesi
kita.
Kata “baik” adalah kata yang menggambarkan kualitas
ideal yang di harapkan pada suatu profesi yang meliputi berbagai aspek mendasar
dalam suatu profesi termasuk profesionalisme.
Profesional (dari bahasa Inggris) berarti ahli,
pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti.
Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam
bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan
pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena
menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut
persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya
manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan
integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya (Isnawati, 2010 :
118).
Menjadi profesional adalah tuntutan setiap profesi,
seperti dokter, insinyur, pilot, ataupun profesi yang telah familiar ditengah masyarakat.
Akan tetapi guru…? Sudahkan menjadi profesi dengan kriteria diatas. Guru jelas
sebuah profesi. Akan tetapi sudahkah ada sebuah profesi yang baik dan
profesional…? Minimal menjadi guru harus memiliki keahlian tertentu dan
distandarkan secara kode keprofesian. Apabila keahlian tersebut tidak dimiliki,
maka tidak dapat disebut guru. Artinya tidak sembarangan orang bisa menjadi
guru.
Namun pada kenyataanya, banyak ditemui menjadi guru
seperti pilihan profesi terakhir. Kurang bonafide, kalau sudah mentok
tidak ada pekerjaan lain atau sebuah status sosial yang lekat dengan
kemarginalan, gaji kecil, tidak sejahtera malah dibawah garis kemisikinan.
Bahkan guru ada yang dipilih asal comot yang penting ada yang mengajar. Padahal
guru adalah operator sebuah kurikulum pendidikan.Ujung tombak pejuang pengentas
kebodohan. Bahkan guru adalah mata rantai dan pilar peradaban dan benang merah
bagi proses perubahan dan kemajuan suatu masyarakat atau bangsa.
Mengingat guru adalah profesi yang sangat idealis,
pertanyaannya adakah guru yang baik itu. Dan bagaimana melahirkan sosok guru
yang baik serta profesional tersebut.
1.2
Rumusan Masalah
Ø Bagaimana guru yang baik dan profesional itu?
Ø Bagaimana menjadi guru yang baik ?
Ø Bagaimana guru yang baik dewasa ini?
1.3
Tujuan
Ø Untuk mengetahui guru yang baik.
Ø Untuk mengetahui cara menjadi guru yang baik.
Ø Untuk mengetahui guru yang baik dewasa ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Guru yang profesional
Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas
pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan,
melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran.
Menjadi profesional adalah mampu meramu kualitas
dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun
demikian, profesi guru juga sangat lekat dengan peran yang psikologis, humannis
bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Karena ibarat sebuah laboratorium,
seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak
manusia dan juga suatu bangsa. Berikut beberapa kriteria untuk menjadi guru
profesional.
A. Memiliki skill/keahlian
dalam mendidik atau mengajar
Setiap
orangbisa saja bekerja sebagai seorang guru, tetapi tidak semuanya bisa menjadi
guru yang benar-benar memiliki skill
dan keahlian dalam mendidik. Diperlukan upaya maksimal dan tak kenal lelah
untuk bisa mencapai tingkatan seorang guru yang profesional, positif dan penuh
motivasi.
Dalam
kontek diatas, untuk menjadi guru seperti yang dimaksud standar minimal yang
harus dimiliki adalah:
Ø Memiliki kemampuan intelektual yang memadai,
terutama yang berkaitan dengan materi pelajaran yang anda ampu.
Ø Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan,
sehingga dengannya anda dapat membuat skala prioritas dan dapat bekerja secara
lebih terarah.
Ø Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau
metodelogi pembelajaran dengan baik. Hal ini penting dimiliki oleh
masing-masing guru agar apa-apa yang mereka ajarkan tepat sasaran dan efektif.
Ø Memahami konsep perkembangan anak/psikologi. Hal
ini juga penting agar dalam mengajar guru dapat menilai sampai sejauh mana
keberhasilan mereka, apa saja kendala-kendala dihadapi, dan bagaimana menemukan
solusi-solusi yang tepat
Ø Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik sehingga
kegiatan belajar dapat diikuti siswa dengan menyenangkan (Isnawati, 2010 :
121).
B. Personaliti Guru
Profesi
guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh
ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak
didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru
(digugu dan ditiru) otomatis menjadi teladan. Melihat peran tersebut,
sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti
yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya
mengajar (transfer knowledge) tetapi juga menanamkan nilai – nilai
dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.
C. Memposisikan profesi
guru sebagai The High Class Profesi
Di negeri
ini sudah menjadi realitas umum guru bukan menjadi profesi yang berkelas
baik secara sosial maupun ekonomi. Hal yang biasa, apabila menjadi Teller di
sebuah Bank, lebih terlihat high class dibandingkan guru. jika ingin memposisikan
profesi guru setara dengan profesi lainnya, mulai di blow up bahwa
profesi guru strata atau derajat yang tinggi dan dihormati dalam masyarakat.
Karena mengingat begitu fundamental peran guru bagi proses perubahan dan
perbaikan di masyarakat.
2.2 Membuat
Belajar Menjadi Menyenangkan
Salah
satu indikator guru yang baik adalah guru yang mampu menjadikan suasana belajar
menjadi menyenangkan bukan menegangkan. Manfaat guru yang menyenangkan adalah
menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan, karena guru yang menyenangkan
mampu membangkitkan semangat belajar siswa melalui penyampaian materi pelajaran
dengan cara yang menarik dan mengesankan, sehingga peserta didik merasa senang
dan tidak terpakssa dalam menerima pelajaran. Meskipu demikian untuk menjadikan
belajar sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan, tidak hanya dibutuhkan guru
yang menyenangkan saja, tetapi ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar
belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Yaitu sebagai berikut:
Ø Tempat belajar yang nyaman
Ø Media pembelajaran yang menarik
Ø Cara penyampaian materi yang mengesankan dan tidak
monoton
Ø Kesiapan peserta didik dalam menerima pelajaran
Apabila
beberapa hal diatas sudah terpenuhi maka tidak sulit untuk mewujudkan belajar
yang menyenangkan. Dan dengan belajar yang menyenangkan maka tujuan dari suatu
pembelajaran akan mudah tercapai.
Guru
ideal, seperti apakah guru ideal itu? Setiap orang bisa menyodorkan daftar
panjang berisi kriteria-kriteria untuk menjawab pertanyaan ini. pada dasarnya
tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar ia
merupakan medium aktif antara siswa dan haluan/filsafat negara dan kehidupan
masyarakat dengan segala segi-seeginya dan dalam mengembangkan pribadi siswa
serta mendekatkan mereka dengan pengaruh-pengaruh dari luar yang baik dan
menjauhkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang buruk. Dengan demikian seorang
guru wajib memiliki segala sesuatu yang erat hubungannya dengan bidang
tugasnya, yaitu pengetahuan, sifat-sifat kepribadian, serta kesehatan jasmani
dan rohani.
Pembelajaran
yang menarik bukanlah sekedar menyenangkan tanpa target. Ada sesuatu yang ingin
dicapai dalam proses pembelajaran, yaitu pengetahuan atau keterampilan baru. Jadi
pembelajaran yang menarik haruslah memfasilitasi siswa untuk berhasil mencapai
tujuan pembelajaran secara optimal, dengan cara yang mudah, cepat, dan
menyenangkan. Adapun manfaat dari pembelajaran yang menarik tersebut, karena
dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan beban psikologis siswa, tentunya akan
mengefektifkan sekaligus mengefisienkan aktivitas belajar-mengajar dikelas
(Maksum, 2014 : 68).
2.3 Mengajar
Dengan Hati
Guru adalah sebuah profesi yang sangat istimewa, karena ucapan dan
tindakannya akan sangat menentukan kepribadian murid. Wawasan dan keahliannya
akan membentuk pandangan dan sikap muridnya akan kehidupan. Karena
keistimewaannya inilah Pak Munif Chatib menyebut profesi guru adalah profesi
seniman sejati. Namun, tak banyak guru yang menyedari keistimewaan profesi yang
digelutinya, mereka masih berpikir guru adalah profesi yang kalah hebat dari
profesi dokter, arsitek dan lain-lainya sehingga rasa minder, rasa tak percaya
diri selalu ada dalam benaknya. Jika rasa bangga tidak ada dalam benak setiap
guru, maka akan bedampak kepada kinerja dan profesionalitasnya. Mereka akan
cenderung asal bekerja dan apa bedanya tanpa kreativitas, kurang bertanggung
jawab dan selalu mengeluh dan menyalahkan siswa. Karena rasa bangga sebenarnya
akan melahirkan rasa kecintaan terhadap profesi, tanpa rasa cinta terhadap
profesi ini maka guru tidak akan bisa bekerja dengan hati. Guru adalah profesi
yang banyak berkomunikasi dan kita sama-sama mengetahui bahwa komunikasi akan
efektif kalau dilakukan dengan sepenuh hati. Berbeda dengan seorang guru yang memiliki rasa kebanggaan akan
profesi yang digelutinya, hatinya akan penuh dengan ketulusan dan kesungguhan.
Karena, pekerjaan apapun yang tidak menyertakan hati akan tersa hambar. Hati
disini memiliki konotasi positif, hati yang bening sesuai dengan kodratnya.
Hati mereka penuh rasa cinta kepada semua muridnya, kreativitas akan mereka terus
gali, mereka akan terus belajar tanpa henti, dan menciptakan inovasi-inovasi
dan media-media belajar yang dapat memudahkan peserta didiknya dalam belajar.
Guru
adalah seniman sejati, seniman yang mengapresiasikan karyanya bukan hanya untuk
kepuasan pribadinya namun juga untuk kepuasan dan keberhasilan anak
didiknya.seniman sejati adalah yang hasil kerjanya terukur kualitasnya. Seniman
sejati adalah yang melakukan tugasnya dengan hati, adapun maksud-maksud lain
harus dipandang sebagai akibat.
Setiap guru
untuk tidak hanya memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga mampu untuk belajar.
Jika seorang guru sudah mampu untuk belajar bagaimana mendengarkan siswa,
berkomunikasi personal, mengendalikan emosi serta berusaha mengerti apa yang
dimau siswa, hasilnya adalah tidak hanya siswa yang mau mendengar gurunya,
melainkan siswa menjadi lebih besemangat dalam belajar dengan si guru. Itulah
yang dinamakan dengan metode mengajar dengan hati (Maksum, 2014 : 45).
Guru yang baik adalah guru yang mengajar muridnya dengan
hati.
Seorang
guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid muridnya, tetapi
juga mendidik mereka. Untuk mendidik ,tidak harus mengajar di bidang etika atau
menjadi guru agama mengajar di bidang apapun, sesungguhnya setiap guru , dapat menerapkan
pendidikan bagi para muridnya, yakni mengajar dengan hati
Menjadi
guru jangan hanya ingin menjadi orang yang didengarkan kata katanya, tetapi
juga harus bersedia mendengarkan kesulitan yang dihadapi oleh muridnya. Prinsip
dasar inilah yang sering dilupakan ,sehingga kalau kita mau bicara dengan
jujur, pada masa ini, yang berdiri di depan kelas, kebanyakan adalah tenaga-tenaga
pengajar. Bukan seorang guru. Bagaimana mungkin menjadi guru, setelah satu
tahun mengajar, masih tidak dapat menghafal nama murid muridnya (http://www.kompasiana.com/).
2.4 Membimbing
Keberhasilan Peserta Didik
Keberhasilan
pembelajaran adalah keberhasilan peserta didik dalam membentuk kompetensi dan mencapai tujuan, serta
keberhasilan guru dalam membimbing peserta didik dalam pembelajaran. Oleh
karena itu pada pembahasan ini akan dibahas secara khusus mengenai teknik
membimbing keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Hal ini penting dalam
rangka keberhasilan pembelajaran.
A. Mampu Membimbing Peserta Didik yang Lamban
Slow learning atau lamban belajar merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar.
Peserta didik yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam mengikuti
pembelajaran, menganalisa apa yang dipelajari, dan mengalami kesulitan dalam
memahami isi pembelajaran, serta sulit membentuk kompetensi, dan mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan. Slow
learning menunjuk pada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
akibat kelambanan dalam perkembangan terutama perkembangan mental. Kemampuan
peserta didik yang lamban belajar lebih rendah dibanding perkembangan rata-rata
teman sebayanya. Kelambanan perkembangan ini disebabkan oleh tingkat kecerdasan
atau IQ dibawah rata-rata umum atau dibawah nornal. Peserta didik slow leaner juga sering mengalami
kelambanan dalam pertumbuhan jasmaninya (Mulyasa, 2009 : 122)
Anak-anak yang digolongkan
lambat belajar adalah mereka yang memiliki IQ antara 70 sampai dengan 90, yakni
yang termasuk klasifikasi kurang pandai.
Oleh
karena itu guru yang baik adalah guru yang mau dan mampu serta bersabar untuk
menemukan metode atau gaya belajar yang efektif bagi peserta didik yang
mengalami slow learning ini.
B. Mampu Membimbing Peserta Didik yang Cerdas
diatas Normal
Peserta didik yang tergolong cerdas adalah mereka
yang memiliki IQ diatas normal. Pendidikan untuk anak-anak yang tergolong luar
biasa diatas normal masih sangat terbatas dengan daya tampung yang masih
kurang. Kondisi tersebut mengakibatkan peserta didik yang cerdas terpaksa
mengikuti sekolah-sekolah biasa, tentu saja akan banyak membawa dampak negatif
bagi perkembangan kemampuan peserta didik itu sendiri, bila kepadanya kurang
perhatian serta perlakuan kurang wajar, dan kurang adanya penyuluhan yang
tepat. Untuk menghindari hal tersebut, guru dan tenaga kependidikan lain di
sekolah perlu dibekali pula dengan teknik bimbingan atau teknik membimbing
peserta didik secara tepat waktu dan tepat sasaran. Dikatakan demikian, karena
seringkali tindakan-tindakan guru bukan memberikan kemudahan belajar bagi
peserta didik, tetapi menghambat bahkan mematahkan perkembangan peserta didik.
Misalnya memberikan jawaban yang tidak memuaskan bagi peserta didik yang
bertanya (Mulyasa, 2009 : 127)
2.5 Penggunaan
Metode dalam Belajar
Para ahli
menganggap metodologi pengajaran sebagai ilmu bantu yang tidak dapat berdiri
sendiri, tetapi berfungsi membantu bidang-bidang lain dalam proses
pembelajaran. Ia memang bersifat netral dan umum, tidak diwarnai oleh sesuatu
bidang pun. Akan tetapi mengandung unsur-unsur inovatif, karena memberi
alternatif lain yang dapat dipergunakan dikelas. Karena itu ilmu bantu ini
bersifat luwes. Penggunaannya didasarkan
atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Selalu
berorientasi pada tujuan.
2. Tidak
hanya terikat pada suatu alternatif saja.
3. Kerap dipergunakan sebagai suatu kombinasi dari
berbagai metode.
4. Kerap dipergunakan berganti-ganti dari satu
metode ke metode lain.
Untuk memilih metode mengajar tidak biasa
sembarangan, banyak faktor yang mempengaruhi dan patut dipertimbangkan.
Misalnya seperti yang dikemukakan oleh Winarno Surakhmad (1970) sebagai
berikut:
a. Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya
b. Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya
c. Situasi dengan berbagai keadaanya
d. Fasilitas dengan berbagai kualitas dan
kuantitasnya
e. Pribadi guru serta kemampuan profesinya yang
berbeda-beda.
Karenanya banyak mata pelajaran, maka tujuan untuk setiap mata pelajaran pun berbeda-beda
pula. Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode untuk mencapai
tujuan tersebut. Pemilihan metode yang salah akan menghambat pencapaian tujuan
pembelajaran. Guru yang baik akan memilih metode tidak dengan sesuka hatinya
dan harus berpedoman pada tujuan pembelajaran (Djamarah, 2005 : 223)
2.6
Karakteristik Guru Abad 21
Banyak
kriteria untuk menjadi guru yang difavoritkan oleh anak didiknya. Bagaimana sih
sebenarnya kriteria seorang guru yang dicari dan diinginkan oleh anak didik?
1. adaptor
Salah
satu kriteria guru yang baik adalah dia mampu beradaptasi dengan keadaan dan
kondisi kelas dan anak didiknya dalam segala situasi dan kondisi.
2. Communicator
Komunikasi
selalu menjadi hal dasar untuk semua orang di semua umur dan segala bidang.
Demikian juga dengan guru. Guru diharuskan mempunyai kemampuan untuk
berkomunikasi dengan baik.
3. Learner
Sebagai
pengajar, seorang guru harus selalu meng update skill, pengetahuan,
teknologi dan perkembangan yang ada, sehingga dia bisa mengimbangi anak
didiknya yang selalu up to date dan cepat menyerap pengetahuan dan
informasi yang terjadi di sekelilingnya, secara lokal maupun global.
4. Leader
Seorang
guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Seorang guru harus memiliki
kemampuan untuk mendidik dan memimpin anak didiknya, mengarahkan bakat dan
talenta sehingga dapat diexplorasi dengan maksimal.
5. Model
Guru
selalu menjadi figure atau panutan bagi anak didiknya. Oleh karena itu,
dia seharusnya bersikap baik dan menjadi contoh yang baik juga (edudemic.com)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru yang baik, guru yang baik adalah gabungan dari
beberapa kemampuan-kemampuan yang mendasar dan khusus yang dimiliki oleh
seorang guru yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan, kemampuan yang
dimiliki bisa meliputi kemampuan mengajar, mendidik, penggunaan metode-metode
dalam mendidik serta mengetahui serta memahami psikologi peserta didik guna
menggapai tujuan mulia dari diadakannya pendidikan tersebut. Selain itu guru
yang baik tentu akan menjadi guru favorit bagi peserta didik sehingga guru yang
difavoritkan tersebut dapat lebih mudah memberikan pengajaran serta pendidikan
pada peserta didiknya. Guru yang baik adalah guru yang dapat membimbing serta
mengarahkan anak didiknya kearah yang diinginkan oleh anak didiknya tersebut.
Selain itu guru yang baik biasanya adalah guru yang
mampu menjadikan proses pembelajaran menjadi menyenangkan bukan menegangkan.
Dan yang paling penting adalah guru yang baik akan mempermudah peserta didiknya
dalam proses belajar bukan justru mempersulit peserta didiknya dalam proses
pembelajaran tersebut. Oleh karena itu penting untuk menjadi guru yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik
Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta. PT Asdi Mahasatya.
Isnawati,
Nurlela. 2010. Guru Positif-Motifativ.
Yogyakarta. Laksana
Maksum,
Muhammad. 2014. Menjadi Guru Idola.
Klaten. Cable Book
Mulyasa,
E. 2009. Menjadi Guru Profesional.
Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset.